TRUE STORY diambil dari buku Life of Phi

Jun 5, 2008



Anak india bernama ujang (bukan nama asli), bertemu 3 orang bijak di kebun binatang. Ujang sedang ditemani oleh orang tuanya. Ini Kisah Nyata.

Setelah saling bertukar sapa mengucapkan halo dan hari yang indah, timbul keheningan yang canggung, Akhirnya keheningan ini dipecahkan oleh sang pastor. Dengan nada bangga ia berkata, “Ujang anak kristen yg baik, mudah mudahan dia segera mau bergabung dengan paduan suara kami.”

Kedua orang tua Ujang, sang pandita dan sang imam tampak terkejut.

“Anda pasti keliru, Dia anak muslim yang saleh. Dia selalu datang untuk salat Jumat, dan pengetahuannya tentang Qur’an semakin banyak.” Begitulah kata sang imam.

Kedua orang tua Ujang, sang pastor dan sang pandita tampak terheran-heran.

Sang Pandita berkata, “ Anda berdua keliru, Dia anak Hindu yang taat. Saya sering melihat dia datang ke kuil untuk darshan dan melakukan puja.

Kedua orang tua Ujang, sang imam dan sang pastor tampak tercenggang.

“Saya tidak mungkin keliru,” kata sang pastor. “Saya kenal anak ini. Dia Ujang bin udin bin slamet, dan dia anak kristen.”

“Saya juga kenal dia, dan sudah saya bilang dia itu muslim.” Sang imam menegaskan.

“Omong Kosong!”, seru si pandita, “Ujang lahir sebagai anak Hindu, hidup sebagai anak Hindu, dan akan mati sebagai anak Hindu juga”

Ketiga orang bijak itu saling pandang dengan tegang dan tidak percaya.

Ya Tuhan, tolong alihkan mata mereka dariku, ujang berbisik dalam hati.

Mata mereka semua tertuju terhadap ujang.

“Ujang, benarkah ini?” tanya sang imam penasaran. “Hindu dan Kristen memuja berhala. Tuhan mereka banyak.”

“Dan muslim mempunyai banyak istri”, balas sang pandita.

Pastor menatap dua orang bijak lainnya dengan tak senang, “Ujang, dia nyaris berbisik,”Keselamatan hanya ada dalam Yesus.”

“Omong Kosong!”, orang kristen tidak tahu apa apa tentang agama.” Kata sang pandita.

“Mereka menyimpang dari jalan Tuhan lama berselang” kata sang imam

“Dimanakah Tuhan dalam agamamu?” bentak sang pastor.

“Tidak ada satu pun keajaiban Tuhan didalamnya. Agama macam apa itu, tanpa keajaiban sama sekali?”

“Agama kami bukanlah sirkus yang mempertontonkan orang-orang mati melompat keluar dari kubur mereka! Kami orang orang muslim, berpegang pada keajaiban yang paling dasar, yakni eksitensi itu sendiri. Burung yang berterbangan, hujan yang turun, hasil pertanian, itu sudah cukup merupakan keajaiban bagi kami”

“Burung dan hujan boleh saja, tapi kami lebih suka yakin kalo Tuhan bener bener ada bersama kami”

“Begitukah?” wah percuma saja Tuhan ada bersama kalian-kalian coba membunuh-Nya! Kalian memaku-Nya! Kalian mencoba membunuh-Nya! Kalian memaku-Nya disalib dengan paku paku besar. Pantaskah memperlakukan nabi secara demikian? Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu Allah kepada kami tanpa banyak omong kosong yang tidak pada tempatnya, dan meninggal dalam usia lanjut.”

“Wahyu Allah? Pada saudagar buta huruf di tengah padang pasit? Itu bukan wahyu Allah, itu omongan orang sakit yang duduk terguncang guncang di atas untanya.”

“Kalau nabi’SAW masih hidup, beliau pasti menegurmu dengan keras,” sang imam menyahut dengan mata disipitkan.

“Tapi dia sudah mati! Kristus hidup, sementara SAW-mu sudah mati, mati, mati!!”

Sang Pandita menyela pelan, Dalam bahasa tamil dia berkata, “Pertanyaan nya sekarang adalah, kenapa Ujang membuang buang waktu dengan agama agama asing ini?”

Seketika sang pastor dan sang imam sama sama melotot mendengarnya. Mereka berdua sama sama orang tamil.

“Tuhan itu universal,” kata sang pastor.

Sang imam mengangguk angguk setuju. “hanya ada satu Allah.”

“Dan dengan Allah mereka yang satu itu, Muslim selalu menimbulkan masalah dan memacu keributan. Bukti betapa buruknya Islam bisa dilihat dari perilaku kaum Muslim,” kata sang pandita.

“Kau sendiri mendukung perbudakan yang menganut sistem kasta,” kata sang imam, “Orang – orang Hindu memperbudak manusia dan memuja boneka boneka yg didandani.”

“Mereka pemuja lembu emas. Mereka menyembah sapi-sapi,” sang pastor ikut ikutan.

“Orang orang kristen menyembah orang kulit putih! Merekalah pemuja dewa asing. Merekalah yang merupakan mimpi buruk bagi orang orang non kulit putih.”

“Mereka makan babi, mereka kanibal,” sang imam menambahkan.

“Dengan kemarahan tertahan sang pastor berkata “Sekarang masalahnya apakah Ujang menginginkan agama sejati atau sekedar mitos mitos dari komik kartun.”

“Allah atau patung patung,” kata sang imam dengan sungguh-sungguh.”

“Dewa dewa kita sendiri atau dewa dewa asing,” desis sang pandita.

Sulit dikatakan siapa wajahnya lebih merah membara. Mereka bertiga seperti akan meledak.

Ayah Ujang mengangkat kedua tangannya, “Saudara saudara, saudara2, sudahlah!” dia menengahi. “Saya ingin mengingatkan kepada anda kalian kalau negara ini menganut kebebasan beragama.

Tiga wajah menoleh ke arah nya.

“Ya! Beragama-satu agama!” ketiga orang bijak itu berseru serentak. Tiga jari telunjuk terangkat secara bersamaan, seperti tanda seru untuk memberi tekanan pada ucapan mereka.

Mereka tidak senang telah berseru bersamaan, lalu mereka menurunkan jari masing masing. Ayah dan Ibu Ujang tidak tahu mesti mengatakan apa.

Sang pandita yg mulai bicara, “Ayahnya Ujang, kesalehan Ujang patut dikagumi, pada masa masa penuh pergolakan ini senang rasanya melihat anak yang begitu taat beribadah kepada Tuhan. Kami semua berpendapat mengenai hal itu” “Tapi dia tidak bisa menjadi penganut Hindu, Kristen dan Islam. Itu tidak mungkin, Dia mesti memilih”

“Menurut saya, apa yang dia lakukan itu bukan kejahatan, tapi saya rasa anda benar”, sahut ayahnya Ujang.

Ketiga orang bijak itu bergumam sependapat dan menengadah ke langit. Lalu semua memandang Ujang. Bahu Ujang terasa dibebani oleh keheningan selanjutnya.

“hmmm, Ujang?” Ibu menyikut Ujang, “Bagaimana menurutmu?”

“Kata Bapa Ghandi, semua agama baik adanya, Aku Cuma ingin mengasihi Tuhan.” Kata Ujang, lalu Ujang menunduk dengan wajah merah.


Ayah Ujang berkata dengan agak pelan, “Saya rasa kita semua berusaha begitu, mengasihi Tuhan”

Orang tidak bisa memarahi anak kecil yang bermaksud mengasihi Tuhan. Ketiga orang bijak itu mundur dengan senyum kaku dan kesal di wajah mereka.