Ketika aku baca blognya Shawn, sepertinya dia pengin cepet-cepet mati tapi nggak kesampaian. Kayaknya harus ku kasih pitutur bahwa kalau pengin mati jangan nggantung di pohon bayam. Damn, aku cuman bisa ngelus-elus kepalanya, menenangkannya, menghiburnya dan memberinya spirit. Oh God.... melihat wajahnya saja sudah terlihat jelas guratan-guratan yang seharusnya tidak ada pada orang seumuran dia.
"Gua butuh elo, temenin gue sebentar saja, ketemuan di XXX atau jemput gua"
"Okay, aku jemput deh kamu...."
Meluncur ke tempat dia dan kujemput, tapi aku nggak ngeliat Julio, terus Shawn ngajak ngobrol di pantai sambil minum teh di gazebo.
"Hanya ada 3 orang yang aku sayangi, pertama Lio, kedua udah mati dan ketiga milik orang lain. Aku udah ikut semua katamu, tapi aku tetap saja nggak bisa memaksa perasaanku. Sepertinya yang kedua dan ketiga belum bisa ikhlas. Di lain hal aku harus berjuang dengan kerasnya kehidupan, untuk menghidupi Lio, sekolah dia, bantu mama, dll."
Dan bercerita dari A ke Z, aku hanya dengerin, karena memang aku dibutuhkan untuk dengerin curhat dia, sampai dia puas dan terisak-isak. Pada akhirnya aku ajak dia bersama-sama menarik kesimpulan dari curhat dia, dan kuberikan dia wejangan-wejangan walau sepertinya ngga berlaku untuk dirinya.
Aku hanya katakan, "Jika kamu pengin mati, kamu nyiksa Lio, tapi jika kamu hidup, walaupun kepala jadi kaki, kaki jadi kepala nanti dia akan tahu kok. Anyway, kamu kenal aku dah belasan tahun, aku nggak ingin Lio nanya kenapa kamu mati, gimana aku mau jawab"
Kuantar dia pulang, dia say thank you, dan aku peluk sohibku itu.....
'Aku akan selalu jadi temenmu....'
Aku coba merenung gimana jika aku menjadi dia, hmm... apakah aku juga akan mencari jalan pintas? Mungkin ya mungkin tidak, mungkin juga seperti dia, hanya bisa terisak-isak tapi tak ada lagi air mata yang menetes. Padahal bisa saja dia mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tapi dia tetep kukuh untuk tidak mengorbankan perasaan, karena dia nggak bisa hidup dengan orang yang tidak cintai. Ketika kubertanya, "Sampai kapan kamu bertahan...?", "Sampai aku ikhlas dan dia ikhlas", "Bukankah itu nggak akan pernah terjadi", "Lalu apa aku harus menyiksa diriku jika hanya untuk kehidupan yang serba semu, yang akan ada hanyalah kebohongan dan kebohongan yang menambah penderitaanku". Aku hanya bisa hela nafas... begitu agungnya perasaan cintamu?